Resensi Buku Homo Deus Karya Yuval Noah Harari

Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia


Resume

Bab 1: Agenda Baru Umat Manusia

Bab ini berfungsi sebagai pengenalan untuk bagian-bagian selanjutnya, dimana dijelaskan tentang tantangan dan pencapaian yang telah dialami manusia dalam perjalanan hidupnya. Di bagian ini Harari berbicara tentang masa lampau, misalnya tentang epidemi penyakit, kelaparan, kekerasan, dan peperangan. Selanjutnya, Harari berbicara tentang masa kini, dimana manusia dapat mengatasi atau setidaknya mengendalikan tantangan yang terjadi di masa sebelumnya.

Bab 2: Antroposen

Dalam bab ini, Harari memaparkan sebuah pandangan umat manusia yang telah berevolusi dan berkembang, sehingga berpikir bahwa dirinya memilki sifat-sifat yang menempatkannya diatas binatang lain. Harari berpendapat bahwa Revolusi Agrikultur dan Revolusi Industri telah merubah hubungan antara manusia dan binatang, sehingga dunia ini telah menjadi panggung drama yang diatur oleh umat manusia sesuai keinginan dan kebutuhan mereka.

Bab 3: Penanda Manusia

Dalam bab ini, penulis menggarisbawahi bahwa manusia telah menjadi spesies yang terkuat di dunia. Manusia berpikir bahwa mereka memiliki kelebihan moral dibandingkan dengan serigala, gajah, atau binatang lainnya. Pemikiran ini kemudian berkembang menjadi etnosentrisme, dimana sebuah kelompok manusia menganggap bahwa mereka lebih berharga dibanding kelompok manusia lain.

Bab 4: Para Pendongeng

Dalam bab ini, penulis menjelaskan bahwa binatang seperti serigala dan simpanse hidup di sebuah realitas ganda, dimana mereka memahami entitas objektif yang ada di lingkungan mereka, seperti pepohonan, batu-batu, serta mereka menyadari pengalaman subjektif dalam diri mereka, seperti rasa takut, rasa lapar, dan rasa senang. Berbeda dengan manusia, yang memiliki realitas ketiga, yaitu imajinasi yang menjadi kekuatan besar bagi peradaban.

Bab 5: Pasangan Aneh

Bab ini menjelaskan interaksi antara realitas objektif dan realitas imajinasi yang dimiliki manusia. Harari memaparkan bahwa kadang-kadang realitas imajinasi dalam bentuk cerita-cerita mendominasi realitas objektif. Hal ini dijelaskan dengan konsep agama, dimana manusia menjadikan entitas imajiner yang Mahakuasa sebagai pemberi petunjuk untuk menjalani hidup.

Bab 6: Perjanjian Modern

Dalam bab ini, Harari menjelaskan perkembangan manusia selanjutnya yang mengadakan perjanjian dengan modernitas. Perjanjian ini menyatakan bahwa manusia akan mendapatkan kekuasaan yang dengan cara mengambil tanggung jawab dunia ini kepada mereka sendiri, tidak menggantungkannya terhadap sebuah entitas imajiner. Akan tetapi, perjanjian ini datang dengan sebuah imbalan, yaitu hilangnya makna kehidupan manusia.

Bab 7: Revolusi Humanis

Bab ini menjelaskan bagaimana umat manusia menggunakan sebuah trik untuk menggali sebuah makna kehidupan tanpa melanggar perjanjian dengan modernitas. Manusia menyadari pentingnya makna sebagai penjaga keteraturan dalam dunia ini, sehingga mereka menciptakan humanisme, yang menyatakan bahwa makna kehidupan berada pada diri manusia itu sendiri, bukan pada entitas imajiner yang Mahakuasa. Setelah itu, Harari menjelaskan konflik antara tiga cabang humanisme, yaitu humanisme liberal, sosialis, dan humanisme evolusioner, yang akhirnya dimenangkan oleh humanisme liberal.

Bab 8: Bom Waktu dalam Laboratorium

Dalam bab ini, Harari menjelaskan bagaimana liberalisme menjadi sebuah kekuatan dominan di abad ke-21. Akan tetapi, kemajuan sains yang didorong oleh paham liberalisme, akan membawa paham itu sendiri kepada kehancuran. Sains akan membuktikan bahwa manusia bukanlah makhluk unik, melainkan hanya sebuah kumpulan algoritma rumit dari berbagai reaksi biokimia yang tunduk pada hukum-hukum alam, sama seperti semua makhluk di dunia ini.

Bab 9: Pemisahan Besar

Bab ini memaparkan bagaimana penemuan sains mutakhir yang menghancurkan paham liberalisme akan mengubah umat manusia secara keseluruhan. Penemuan sains, yang diikuti dengan kemajuan teknologi, akan membuat manusia kehilangan nilai ekonomi dan militernya. Hal ini dianalogikan dengan penggunaan robot dalam industri dan peperangan. 

Bab 10: Samudra Kesadaran

Dalam bab ini, Harari menyatakan bahwa kemajuan teknologi akan menciptakan agama baru dengan kesadaran yang baru, yaitu agama tekno, dimana semua hal di dunia ini akan berhubungan dengan teknologi. Agama tekno ini dibagi menjadi dua, yaitu tekno-humanisme dan agama data. Bab ini dikhususkan untuk membahas tekno-humanisme, paham yang menyatakan yang masih melihat manusia sebagai pusat dunia, berjalan beriringan dengan teknologi dalam rangka menciptakan Homo deus, model manusia yang jauh lebih unggul dari Homo sapiens.

Bab 11: Agama Data

Bab ini menjelaskan lebih lanjut tentang agama data yang telah Harari singgung di bab sebelumnya. Agama data atau dataisme mendeklarasikan bahwa alam semesta terdiri dari aliran data, dan nilai setiap fenomena atau entitas ditentukan oleh kontribusinya terhadap pemrosesan data. Dataisme akan meruntuhkan penghalang antara binatang dan mesin, dan berharap bahwa algoritma elektronik milik para mesin dan kecerdasan artifisial akan melampaui algoritma biokimia milik binatang.

***

Resensi

1. Judul dan Tema

Buku ini berjudul "Homo Deus" yang berasal dari bahasa latin, yaitu homo yang berarti manusia dan deus yang berarti Tuhan. Judul buku ini cocok dengan tema yang diangkatnya, yaitu perkembangan umat manusia. Perkembangan ini digambarkan oleh penulis sebagai peristiwa dimana manusia memiliki kekuatan yang mirip dengan "Tuhan".

2. Bidang Ilmu yang Dibahas

Buku ini membahas bidang ilmu sejarah. Buku ini menjelaskan peristiwa-peristiwa sejarah dan masalah-masalah etis yang dihadapi manusia dalam evolusinya menjadi spesies yang paling dominan di dunia, dan mencoba untuk menjelaskan kemungkinan yang akan terjadi bagi umat manusia di masa depan.

3. Desain

Buku ini dilengkapi dengan gambar-gambar peristiwa sejarah yang dibahas, memperjelas maksud yang ingin disampaikan oleh penulis dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut.

4. Sistematika

Buku ini disusun berdasarkan urutan kronologis, dimana bagian pertama buku membahas sejarah manusia di masa lalu, ketika umat manusia memulai dominansinya. Setelah itu, dalam bagian kedua, buku ini menjelaskan puncak dominasi manusia, ketika manusia memberi makna bagi dunia dan dirinya sendiri. Terakhir, dalam bagian ketiga, buku ini menjelaskan bagaimana manusia kehilangan kendali atas makna yang dibuatnya sendiri. Sistematika dari buku ini disusun secara rapi, memudahkan pembaca untuk memahami peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi.

5. Bahasa

Buku ini menunjukkan gaya bahasa Yuval Noah Harari yang cerdas, hidup, dan mampu memprovokasi pembaca. Selain itu, Harari juga sering menyisipkan humor-humor dalam penjelasannya tanpa membungkam ide-ide inti yang ingin ia sampaikan. Mungkin terdapat beberapa kata-kata yang jarang dipakai dan sulit dipahami dalam buku ini, namun terdapat catatan kaki yang menjelaskan kata-kata tersebut.

6. Pembukaan dan Penutup

Buku ini dibuka dengan kehidupan manusia di masa lalu yang dipenuhi berbagai masalah, disusul dengan bagaimana umat manusia yang mampu mengatasi masalah tersebut di masa selanjutnya. Di bagian penutup, penulis memaparkan kemungkinan yang akan dihadapi umat manusia dan memberi pertanyaan yang menggugah pikiran, yaitu, "Apa yang akan terjadi pada masyarakat, politik, dan kehidupan sehari-hari ketika algoritma non-kesadaran tetapi sangat pintar mengenal kita lebih baik dibandingkan kita sendiri?" Setelah itu, buku ini diakhiri dengan daftar pustaka, sumber foto, dan biografi singkat dari penulis.

Comments